Kirab Budaya Kie Raha Satukan Empat Kesultanan dan Beragam Suku di Sofifi

oleh -511 Dilihat
oleh

SOFIFI, Gonone.id — Pakaian adat empat kesultanan berpadu dengan busana khas berbagai suku dalam Kirab Budaya Kie Raha di Sofifi, Maluku Utara, Jumat (9/10/2026). Lebih dari sekadar perayaan, kirab ini menjadi panggung keberagaman sekaligus pengingat pentingnya merawat warisan budaya di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk.

Kirab yang digelar dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Provinsi Maluku Utara itu dilepas langsung Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe, di depan kediamannya di Sofifi. Peserta kemudian bergerak menuju Bundaran 40 Sofifi dengan mengenakan pakaian yang mencerminkan identitas budaya masing-masing.

Tradisi empat kesultanan menjadi bagian utama dalam perhelatan tersebut. Namun, kemeriahan kirab tidak berhenti pada warisan budaya Kesultanan Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo. Pelajar dari berbagai kabupaten dan kota, mulai dari Pulau Taliabu hingga Morotai, turut ambil bagian bersama siswa dari jenjang taman kanak-kanak hingga sekolah menengah, termasuk madrasah.

Sejumlah paguyuban dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Jawa, Sulawesi Selatan, Buton, Sumatra, dan Minangkabau, juga ikut mewarnai jalannya kirab.

Keberagaman peserta itu menghadirkan gambaran tentang Maluku Utara yang tumbuh dari kekayaan tradisi lokal, sekaligus menjadi rumah bagi masyarakat dengan latar belakang budaya yang berbeda.

Ketua Panitia, Darwin Arahman, mengatakan kegiatan tersebut merupakan upaya memperkenalkan sekaligus menjaga warisan budaya Maluku Utara yang bersumber dari tradisi empat kesultanan.

“Intinya adalah bagaimana karya dan kekayaan warisan budaya Maluku Utara yang bersumber dari empat kesultanan ini perlu kita jaga dan kita rawat,” kata Darwin.

Menurutnya, pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan masyarakat secara luas, terutama generasi muda. Karena itu, keikutsertaan pelajar dalam kirab diharapkan dapat mendekatkan mereka dengan tradisi daerah, bukan hanya sebagai pengetahuan, tetapi juga sebagai identitas yang perlu diwariskan.

Budaya Menjadi Perekat Kebangsaan
Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe, menilai Kirab Budaya Kie Raha menjadi ruang penting untuk mempertemukan kekayaan tradisi daerah dengan nilai-nilai kebangsaan.

Ia berharap kegiatan semacam ini tidak sekadar menjadi agenda tahunan, tetapi juga mampu menanamkan kesadaran kepada generasi muda tentang pentingnya menjaga identitas budaya di tengah perubahan zaman.

“Budaya seperti ini mampu kita lestarikan, kita padukan dengan nilai kebangsaan, kita perkuat untuk membangun relasi sosial di masa depan,” ujar Sarbin.

Menurutnya, Maluku Utara memiliki kekayaan budaya yang tidak hanya tercermin melalui keberadaan empat kesultanan, tetapi juga melalui beragam suku dan tradisi yang hidup berdampingan di tengah masyarakat.

Keragaman tersebut, kata Sarbin, merupakan modal sosial yang perlu dijaga untuk memperkuat persaudaraan dan membangun hubungan antarmasyarakat yang lebih baik.
Ia juga menekankan bahwa pelestarian adat dan tradisi perlu berjalan selaras dengan nilai-nilai agama yang dianut masyarakat.

“Sepanjang adat istiadatnya tidak mengganggu nilai-nilai ilahiah, nilai teologis kita, wajib untuk melestarikan dan membudayakan sebagai bagian dari upaya mewujudkan ikatan sosial yang lebih baik di masa akan datang,” katanya.

Kirab Budaya Kie Raha diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku Utara. Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Abubakar Abdullah, Kepala Biro Administrasi Pimpinan, pelaksana tugas kepala dinas yang membidangi energi dan sumber daya mineral, serta perwakilan empat kesultanan.

Di tengah beragamnya pakaian adat dan identitas yang ditampilkan, kirab ini membawa pesan bahwa kekayaan budaya bukanlah pembatas antarkelompok, melainkan jembatan untuk memperkuat persaudaraan.

Dari Sofifi, tradisi empat kesultanan dan keragaman suku kembali dihadirkan sebagai bagian dari identitas Maluku Utara warisan yang tidak hanya dikenang, tetapi perlu dirawat dan diteruskan kepada generasi mendatang.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.