Dari Meja Domino ke Konsolidasi Olahraga: Gorotomole Siap “Turun Gunung” Bangun PORDI Tidore

oleh -19 Dilihat
oleh

Gonone. id— Riuh tepuk tangan, gelak tawa, hingga perdebatan kecil yang khas di meja permainan menjadi penutup yang tak terlupakan pada Event Domino Game AE Tong Coffee Cup 2026. Tiga malam berturut-turut, ruang depan Tong Coffee di Kelurahan Tuguwaji berubah menjadi arena adu strategi dan kesabaran, sebelum akhirnya resmi ditutup pada Minggu (26/4/2026) malam.

Penutupan itu bukan sekadar seremoni akhir sebuah turnamen. Ia menjelma menjadi titik awal konsolidasi besar olahraga domino di Kota Tidore Kepulauan. Di momentum yang sama, Muhammad Gorotomole resmi dilantik sebagai Ketua PORDI Kota Tidore Kepulauan periode 2026–2030.

Dalam wawancara singkat usai pelantikan, Gorotomole tak berbicara panjang. Namun satu hal yang ia tekankan: kerja cepat.

“Iyah, kami akan berusaha semaksimal mungkin. Bersama pengurus PORDI yang baru, kami akan membentuk gardu di setiap kelurahan dan desa untuk meningkatkan olahraga domino ini,” ujarnya.

Ia menyebut, dalam waktu dekat, konsolidasi internal akan segera dilakukan. Pertemuan dengan pengurus menjadi langkah awal untuk memetakan kekuatan sekaligus mempercepat pembentukan struktur hingga ke akar.

“Yang jelas kami akan turun gunung, karena pada masing-masing desa dan kelurahan mereka sudah sangat siap,” tambahnya.

Pernyataan itu seolah menjawab harapan Ketua PORDI Provinsi Maluku Utara, Muhammad Sinen yang akrab disapa Ayah Erik yang juga hadir sekaligus menutup langsung kegiatan tersebut. Ia menegaskan pentingnya percepatan pembentukan gardu domino di seluruh wilayah.

Menurutnya, dalam waktu satu bulan, 89 desa dan kelurahan di Tidore harus sudah memiliki gardu sebagai basis pembinaan.

“Saya mengajak semua pengurus dan gardu yang sudah terbentuk, mari bangkitkan semangat kita. Jika olahraga domino ini kita hidupkan, saya pastikan Tidore akan aman. Karena domino ini melatih kesabaran,” ungkapnya.

Bagi Sinen, domino bukan sekadar permainan. Ia adalah olahraga olah pikir yang mampu membangun karakter, mengajarkan ketenangan, serta menjadi ruang sosial yang mempererat kebersamaan.

Ia juga mengingatkan, dalam setiap pertandingan, kalah dan menang adalah hal biasa. Yang kalah bukan berarti gagal, melainkan hanya menunda keberuntungan.

“Saya minta yang belum berhasil, tetap semangat. Latih diri dan rebut kemenangan di kesempatan berikutnya,” pesannya.

Di balik tensi pertandingan, ada dinamika yang tak bisa dihindari. Perdebatan usai permainan menjadi bumbu yang hampir selalu hadir. Entah soal hitungan batu domino, kurang fokus, atau sekadar perbedaan tafsir di meja permainan.

Ismail Komdan, atau yang akrab disapa Komen, menangkap sisi lain dari suasana itu. Ia menyaksikan langsung bagaimana emosi para pemain mengalir setelah pertandingan usai.

“Kadang ada yang bersedih, ada yang marah, bahkan emosinya tinggi saat berdebat. Tapi ya, itu bagian dari pertandingan. Tetap saja, ada yang kalah dan ada yang menang,” katanya sambil tertawa.

Meski demikian, Komen mengaku puas dengan jalannya turnamen hingga penutupan.

 

 

Sementara itu, dari sisi hasil, pasangan Ukan–Ris dari Gardu Tong Coffee keluar sebagai juara pertama kategori umum. Posisi kedua diraih Habu–Gani dari Gardu Balibunga, disusul Bilo–Mas di posisi ketiga. Untuk kategori eksekutif, pasangan Unu–Nim dari Gardu Balibunga menjadi juara pertama, sementara Ayah–Palu dari Gardu PORDI Malut menempati posisi kedua.

Lebih dari sekadar daftar pemenang, Tong Coffee Cup 2026 meninggalkan pesan yang lebih besar: domino di Tidore sedang bergerak dari sekadar hobi menjadi kekuatan sosial dan olahraga yang terorganisir.

Kini, dengan kepemimpinan baru di tangan Gorotomole dan dorongan kuat dari tingkat provinsi, pekerjaan besar menanti membawa domino dari meja-meja kecil di sudut kampung menuju panggung olahraga yang lebih luas.(NN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.