Gonone.id – Perubahan tidak selalu dimulai dari mereka yang memiliki kekuasaan. Tidak pula harus lahir dari kerumunan yang memenuhi jalan-jalan. Dalam banyak keadaan, perubahan justru berawal dari suara yang kecil dari segelintir orang yang memilih tidak diam ketika melihat sesuatu yang dianggap tidak lagi adil.
Di tengah masyarakat yang kuat dengan adat dan budaya, keberanian semacam itu bukan perkara mudah.
Ada mae se kolfino rasa malu dan takut yang kadang membuat seseorang memilih menundukkan kepala, meski di dalam hati menyadari ada sesuatu yang patut dipertanyakan.
Namun, apakah adat dan budaya harus menjadi alasan untuk membungkam kegelisahan?
Pertanyaan itulah yang coba ditempatkan Jainudin S. Alias Digo dalam konteks kehidupan masyarakat hari ini.
“Kalau bukan kita, lalu siapa lagi? Kalau bukan sekarang, terus kapan?” kata Digo saat diwawancarai.
Bagi Digo, keberanian menyampaikan kegelisahan bukan berarti menentang adat, budaya, apalagi mencari pertentangan. Justru sebaliknya, kritik dan pertanyaan perlu ditempatkan sebagai bagian dari tanggung jawab moral untuk menjaga kehidupan bersama.
Sebab, masyarakat tidak hanya membutuhkan ketenangan. Masyarakat juga membutuhkan keadilan. Dan keadilan tidak akan lahir jika semua orang memilih diam.
Digo mengajak persoalan yang terjadi di lingkungan masyarakat disikapi secara arif dan bijaksana. Ia mengingatkan bahwa cita-cita tentang masyarakat yang adil dan makmur bukan sesuatu yang asing dalam perjalanan bangsa Indonesia.
“Adil dan makmur, bukankah itu yang kita inginkan? Ini ada dalam kandungan UUD 1945,” ujarnya. Keadilan untuk Manusia, Kemakmuran untuk Alam Bagi Digo, berbicara tentang keadilan dan kemakmuran tidak bisa dilepaskan dari hubungan manusia dengan alam.
Keadilan memiliki manusia sebagai sasarannya. Sementara kemakmuran berkaitan erat dengan bagaimana alam dan sumber daya yang tersedia dikelola untuk kehidupan manusia.
Di titik inilah keseimbangan menjadi penting.
“Antara manusia dan alam, maksudnya bagaimana keseimbangan ini bisa tetap terjaga,” katanya.
Persoalannya, menjaga keseimbangan tersebut bukan pekerjaan ringan.
Mengatur manusia dengan segala kepentingannya sekaligus menjaga alam dengan segala keterbatasannya membutuhkan kapasitas berpikir yang tinggi. Tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan intelektual.
Diperlukan kecerdasan emosional. Diperlukan pula kecerdasan spiritual.
Sebab pembangunan manusia, menurut Digo, pada akhirnya bukan sekadar membangun kemampuan untuk memperoleh keuntungan dari alam. Lebih jauh, pembangunan harus mampu melahirkan manusia yang memahami batas, tanggung jawab, serta konsekuensi dari setiap keputusan.
Pertanyaan kemudian menjadi sederhana, tetapi mendasar. Landasan apa yang mesti digunakan untuk membangun manusia seutuhnya?
Dan ketika masyarakat melihat berbagai persoalan yang terjadi di sekelilingnya, pertanyaan berikutnya menjadi lebih tajam.
Apakah ini sudah adil?
“Kan di situ problemnya,” ujar Digo.
Jangan Sampai Kaya Alam, Miskin Masyarakat
Sejarah telah memberikan warisan besar bagi generasi hari ini.
Para leluhur, kata Digo, telah mengambil keputusan sejarah dengan penuh keikhlasan untuk menjadi bagian dari Republik Indonesia.
Mereka meninggalkan sebuah pesan besar kepada generasi setelahnya: bahwa masa depan harus dibangun bersama.
Namun, perjalanan sejarah tidak berhenti pada keputusan masa lalu.
Generasi hari ini memiliki pertanyaan sendiri.
“Kalau hari kemarin sudah kita lewati, kita bisa lihat dengan keikhlasan leluhur mempersembahkan diri dengan bergabung di Negara Republik Indonesia. Tapi hari ini, apakah kita enjoy?” katanya.
Pertanyaan itu bukan sekadar soal apakah masyarakat merasa nyaman dengan keadaan hari ini.
Lebih jauh, ia menyentuh persoalan bagaimana kekayaan daerah diterjemahkan menjadi kesejahteraan masyarakat.
Tidore dan Maluku Utara memiliki sumber daya alam. Masyarakat juga memiliki sumber daya manusia.
Tetapi memiliki kekayaan tidak otomatis membuat masyarakat menjadi sejahtera.
Di situlah letak persoalannya.
“Kita mesti hadapi ini secara bersama-sama. SDM kita ada, SDA juga ada,” ujar Digo.
Ia tidak ingin kekayaan alam hanya menjadi angka dalam dokumen, sementara masyarakat yang hidup berdampingan dengan sumber daya tersebut justru tidak merasakan manfaat yang sepadan.
“Jangan sampai kemudian kita miskin di atas kekayaan kita,” tegasnya.
Ketika Segelintir Orang Memilih Bersuara
Apa yang disampaikan Digo pada akhirnya kembali pada satu persoalan: keberanian.
Sebab perubahan besar sering kali tidak dimulai dari mayoritas.
Mayoritas bisa saja memilih menunggu. Bisa pula memilih diam karena merasa keadaan yang ada sudah menjadi sesuatu yang biasa.
Sementara perubahan justru dapat dimulai dari seseorang yang berani berkata: yang salah tetap salah, sekalipun banyak orang memilih tidak membicarakannya.
Dalam masyarakat yang menjunjung tinggi adat dan budaya, keberanian tersebut tentu harus berjalan bersama etika. Kritik tidak harus menjadi permusuhan. Perbedaan pendapat tidak harus berakhir dengan perpecahan.
Yang dibutuhkan adalah keberanian berbicara sekaligus kebijaksanaan dalam menyikapinya.
Sebab, pembangunan bukan hanya tentang siapa yang memimpin dan siapa yang dipimpin.
Pembangunan adalah tentang bagaimana manusia diperlakukan secara adil dan bagaimana alam dijaga agar tetap memberikan kehidupan bagi generasi yang akan datang.
Hari ini adalah ruang untuk bertanya.
Hari esok adalah tanggung jawab.
Dan bagi Digo, mungkin sudah waktunya masyarakat tidak lagi terlalu takut untuk bersuara.
Kalau bukan kita, lalu siapa lagi?
Kalau bukan sekarang, terus kapan? (Red)








