Khotbah Idul Adha, Ketu PGRI Halteng Sampaikan Perjuangan Agung Nabi Ibrahim AS

oleh -69 Dilihat
oleh

Gonone.id, Weda – Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Halmaherah Tengah (Halteng), Sahril Taher memberikan khutbah Idul Adha 1447 Hijriyah 2026 Masehi di Masjid Nurul Ihsan, Desa Nurweda, Kecamatan Weda, Kabupaten Halteng. Rabu, (27/05/26).

Dalam khutbah tersebut, Sahril menyampaikan tentang perjuangan, keteguhan, dan pengorbanan agung yang diteladankan oleh Nabi Ibrahim a.s. Dimana kisah kehidupan beliau yang terabadikan dalam Al-Qur’an selama kurang lebih satu abad masa hidupnya.

Dengan ciri khas khutbah yang lantang dan menggema, Sahril menjelaskan bahwa Kehidupan Nabi Ibrahim a.s. dipenuhi dengan perjuangan berat melawan kebodohan, kebatilan, dan kefanatikan kaumnya yang saat itu tenggelam dalam penyembahan berhala.

Sebagai Nabi yang menyerukan kemurnian akidah dan tauhid, Ibrahim a.s. menjalankan tugas kenabian yang sangat berat di tengah sistem sosial yang keliru. Dalam menegakkan kebenaran, beliau menempuh jalan yang penuh rintangan, menghadapi berbagai cobaan, kesulitan, penderitaan, hingga ancaman penyiksaan yang nyata.

Namun, Nabi Ibrahim a.s. tidak pernah mengenal kompromi dalam meluruskan keimanan. Ketika beliau berhadapan dengan Raja Namrud (penguasa angkuh, kejam, sombong, dan memiliki banyak pengikut). Nabi Ibrahim a.s. tetap tampil tegas dan tidak sedikit pun gentar. Dengan keberanian yang tiada tara, beliau menghancurkan patung-patung berhala yang disembah oleh kaum Namrud di sekitar kawasan Baitullah.

Tindakan itu, kata Sahril membuat Nabi Ibrahim ditangkap dan dijatuhi hukuman mati dengan cara dibakar hidup-hidup. Namun, dengan hati yang penuh keikhlasan dan ketawakal mutlak kepada Allah, Nabi Ibrahim a.s. tidak merasa takut. Bahkan, tidak sedikit pun rasa gentar menyelimuti dirinya. Saat beliau dilemparkan ke dalam kobaran api yang sangat besar dan panas, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Kami berfirman: ‘Hai api, jadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim’.” (QS. Al-Anbiya ayat 69)

Dijelaskan juga bahwa peristiwa agung ini menjadi bukti nyata bahwa keteguhan iman dan kepasrahan total kepada Allah akan senantiasa dibela dan diselamatkan oleh-Nya. Kisah ini menjadi teladan abadi bagi kita, untuk tetap berdiri teguh di jalan kebenaran meskipun harus berhadapan dengan kekuatan dan ancaman sebesar apa pun.

Tidak sampai disitu, Sahril juga memberikan penjelasan sikat terkait kisah Nabi Ibrahim yang diuji dengan ujian yang amat berat. Dimana, Nabi Ibrahim a.s. harus meninggalkan istri tercinta yang sedang mengandung, di sebuah lembah tandus yang gersang, sepi, dan sama sekali tidak ada kehidupan. Di tengah kondisi yang sangat sulit dan penuh ketidakpastian itu, Ibrahim a.s. memanjatkan doa tulus demi masa depan keturunannya dan kepentingan seluruh umat:

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. Ya Tuhan kami, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan seluruh orang-orang yang beriman pada hari diadakannya perhitungan amal.”

Puncak dari segala ujian dan pengorbanan yang dialami Nabi Ibrahim a.s. terjadi saat beliau memasuki usia senja. Beliau telah lama memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar dikaruniai seorang putra, penerus keturunan yang akan melanjutkan perjuangan menegakkan kebenaran. Doa itu pun dikabulkan, lahirlah putra yang menjadi buah hati tercinta, sumber kasih sayang dan kebahagiaan yang tiada taranya bagi beliau.

Namun, ujian pengorbanan terbesar pun datang. Ketika sang putra telah tumbuh besar, turunlah perintah tegas dari Allah:

“Wahai Ibrahim, letakkanlah pisau yang tajam itu di leher putramu, dan dengan tanganmu sendiri, sembelihlah dia sebagai bukti ketaatanmu.”

Peristiwa agung dan penuh makna ini kemudian diabadikan oleh Allah di dalam Al-Qur’an, menjadi teladan abadi tentang makna ketaatan mutlak dan pengorbanan tertinggi di jalan-Nya.

Sahril pun melanjutkan bahwa sebagai bentuk penguatan atas perintah Allah dan memperkuat ketaqwaan. Nabi Ismail meminta kepada Nabi Ibrahim agar ketika melakukan penyembelihan maka dirinya diikat agar dirinya tidak bergerak dan mengganggumu dalam menjalankan perintah Allah. hadapkanlah wajahku ke tanah, supaya engkau tidak tergoyahkan oleh rasa haru dan kasih sayang. Jagalah pakaianku agar tidak terkena darahku, supaya hal itu tidak mengurangi pahala ibadahmu di sisi Allah, dan juga agar tidak menambah kesedihan hati ibuku kelak.

Wahai Ayahku, kata Nabi Ismail. Asahlah pisaumu hingga benar-benar tajam, dan gerakkanlah dengan cepat serta lancar di leherku. Bawalah pakaian ini kepada ibuku sebagai tanda kenang-kenangan dariku. Sampaikanlah salamku dan pesanku kepadanya: agar beliau tetap bersabar menjalankan ketetapan Allah. Dan mohon kepadamu, wahai Ayah, janganlah engkau ceritakan kepadanya bagaimana caranya engkau mengikat dan menyembelihku, agar hal itu tidak menambah kesedihan yang mendalam di hatinya.

Itulah ucapan seorang anak yang luar biasa, yang memiliki nilai pengorbanan setinggi langit. Nilai tauhid yang murni, ketaatan mutlak kepada Tuhan, dan kepasrahan total kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, baginya jauh lebih tinggi dan berharga dibandingkan nyawanya sendiri.

Karena keteguhan iman dan ketaatan keduanya itulah, dengan kasih sayang dan rahmat-Nya yang Maha Luas, Allah Subhanahu wa Ta’ala menggantikan Ismail a.s. dengan seekor kibas besar untuk disembelih oleh Ibrahim a.s. Peristiwa suci ini kemudian diabadikan dan dijadikan syariat dalam Islam hingga hari ini.

“Hewan kurban yang kita laksanakan hanyalah wujud perwakilan dari makna pengorbanan yang jauh lebih besar: kewajiban berbagi bagi mereka yang mampu, sebagai bentuk kepedulian sosial, komitmen terhadap sesama, dan perwujudan kesalehan sosial di tengah masyarakat,” pungkasnya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar. Allahu Akbar, wa Lillahil Hamd.

Dalam khutbah itu pula, Sahril mengaitkan dengan perjalan ibadah haji. Dimana dengan beragam suku, etnis, serta latar belakang sosial yang berbeda-beda, mereka rela meninggalkan sanak saudara, kerabat terdekat, kampung halaman, dan tanah air tercinta. Mereka pun melepaskan segala tanda perbedaan identitas sosial yang selama ini melekat pada diri dan jasadnya, lalu berkumpul bersatu hati di Tanah Suci demi memenuhi panggilan Ilahi Robbi, seruan agung yang disampaikan oleh Nabi Allah Ibrahim a.s. untuk menunaikan ibadah haji.

“Di sana, para jamaah haji merasakan kedekatan yang begitu erat dan intim dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bagi mereka yang telah beruntung menunaikan ibadah ini, akan terasa betapa dalamnya getaran jiwa dan perasaan yang menyentuh hati, seolah segala dinding pemisah antara hamba dan Pencipta telah runtuh,” ungkapnya. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.