Demo Dugaan Rasisme di Bobo Memanas, Wali Kota Tidore Turun Tangan Buka Akses Jalan

oleh -441 Dilihat
oleh

Gonone.id — Aksi demonstrasi yang digelar masyarakat Kelurahan Bobo, Kecamatan Tidore Utara, terkait dugaan rasisme terhadap warga Bobo berlangsung memanas, Senin (18/5/2026). Ketegangan pecah setelah massa aksi memblokade jalan utama sebagai bentuk protes terhadap dugaan penghinaan yang beredar di media sosial.

Pemblokiran jalan itu sempat membuat arus lalu lintas lumpuh. Sejumlah kendaraan tertahan di sekitar lokasi aksi dan aktivitas masyarakat ikut terganggu. Situasi yang mulai tidak kondusif itu kemudian memaksa aparat keamanan bersama Pemerintah Kota Tidore Kepulauan turun langsung ke lapangan.
Wali Kota Tidore Kepulauan, Muhammad Sinen, ikut hadir di tengah massa. Meski menegaskan dirinya tidak dalam posisi menjelaskan tuntutan demonstran, namun sebagai kepala daerah ia mengaku berkewajiban menjaga stabilitas dan ketertiban masyarakat.
Menurut Muhammad Sinen, kehadirannya di lokasi aksi atas permintaan pihak kepolisian untuk membantu memastikan kondisi tetap terkendali, terutama terkait akses jalan umum yang ditutup massa.
“Saya hadir karena diminta oleh Kapolresta agar turun bersama-sama. Jadi, saya datang dan hadir itu bukan untuk mengganggu aksi demonstrasi. Mau demo silahkan, karena itu hak masyarakat. Tapi tidak boleh mengganggu aktivitas umum,” ujar Muhammad Sinen di hadapan massa aksi.
Ketegangan sempat meningkat ketika Wali Kota meminta massa membuka blokade jalan. Permintaan itu muncul setelah sebuah kendaraan yang membawa pasien menuju rumah sakit dikabarkan sempat tertahan akibat penutupan akses jalan.
Bagi Muhammad Sinen, aksi penyampaian pendapat merupakan hak warga negara yang dijamin undang-undang. Namun, hak tersebut tidak boleh mengorbankan kepentingan masyarakat lain yang sedang beraktivitas.
“Saya marah karena mereka tutup jalan. Saya minta untuk membuka jalan karena ada salah satu mobil yang membawa orang sakit ke rumah sakit itu sempat tertahan. Ini terakhir, jika nanti demonstrasi masih disertai pemblokiran jalan maka saya tidak mau lagi negosiasi, saya akan minta kepolisian untuk menangkap otak dibalik pemblokiran jalan,” tegasnya.
Pernyataan Wali Kota itu sempat memicu reaksi dari salah satu orator aksi yang menuding dirinya melakukan provokasi terhadap massa demonstran. Namun situasi akhirnya dapat dikendalikan setelah aparat keamanan bersama tokoh masyarakat melakukan pendekatan persuasif.
Di tengah suasana yang masih memanas, Muhammad Sinen juga meminta masyarakat Kelurahan Bobo untuk mempercayakan proses hukum kepada kepolisian. Ia memastikan laporan terkait dugaan rasisme yang menjadi pemicu aksi saat ini sedang ditangani aparat penegak hukum.
“Sebagai Wali Kota, saya berkewajiban menjaga agar aktivitas masyarakat di Kota Tidore Kepulauan berjalan kondusif,” tandasnya.
Aksi masyarakat Kelurahan Bobo sendiri dipicu dugaan ujaran rasisme yang berkembang di media sosial. Massa mendesak Husain Alting Sjah untuk hadir di tengah masyarakat dan memberikan penjelasan terbuka mengenai sejarah masyarakat Bobo dari perspektif Kesultanan Tidore.
Menurut massa aksi, penjelasan tersebut penting guna meluruskan polemik yang berkembang di media sosial maupun di tengah masyarakat luas.

Selain itu, demonstran juga meminta Polresta Tidore segera memberikan perkembangan penanganan laporan terhadap akun media sosial bernama “D’Facto” yang diduga menyebut masyarakat Bobo sebagai orang Papua.(NN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.