Benteng De Verwachting Bergemuruh, 310 Peserta Resmi Ikuti Gabalil Hai Sua 2026

oleh -38 Dilihat
oleh

Gonone.id Sanana — Pagi yang masih basah oleh embun di Benteng De Verwachting, Kota Sanana, Kabupaten Kepulauan Sula, berubah menjadi ruang sakral yang penuh getaran budaya. Sabtu, 2 Mei 2026, tepat pukul 07.30 WIT, Upacara Pembukaan sekaligus Pelepasan Peserta Gabalil Hai Sua 2026 (GHS-2026) berlangsung khidmat sekaligus meriah.

Raungan sirine memecah udara, diikuti pelepasan balon GHS ke langit Sanana. Momen itu menjadi penanda dimulainya perjalanan 310 peserta yang tergabung dalam 31 tim. Satu per satu perwakilan tim menerima penyematan ban kapten sebuah simbol tanggung jawab sekaligus kehormatan dalam ritual budaya yang telah mengakar kuat di tanah Sula.

Hadir dalam seremoni tersebut, Wakil Bupati Kepulauan Sula H. Saleh Marasabessy yang mewakili Bupati Hj. Fifian Adeningsi Mus, bersama unsur Forkopimda, pimpinan DPRD, kepala OPD, tokoh adat, tokoh masyarakat, hingga Founder Doin Cup sekaligus penasehat panitia, Adnan Husein (Ko Nan). Turut pula Ketua STAI Babussalam Sula Sahrul Takim dan jajaran pimpinan instansi vertikal lainnya.

Acara diawali dengan doa yang dipimpin Ustad Umasugi. Dalam lantunan doa yang syahdu, terselip harapan agar GHS menjadi berkah bagi negeri, menjadikan Kepulauan Sula sebagai “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur”, negeri yang baik dan penuh ampunan.

Ketua Panitia GHS-2026, H. Faruq Bahnan, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan upaya menjaga denyut tradisi leluhur.

“GHS ini adalah ritual budaya dan kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun. Kami berharap ini menjadi momentum agar GHS masuk secara resmi sebagai Warisan Budaya Tak Benda dan menjadi identitas orang Sula,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya regulasi daerah untuk memperkuat posisi GHS sebagai agenda tetap sekaligus ikon wisata.

“Kami berharap ke depan diatur melalui Perda atau Perbup, sehingga menjadi kegiatan rutin dan ajang silaturahmi orang Sula, termasuk mengajak masyarakat di perantauan untuk pulang kampung Sua Wel Bihu,” tambahnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Saleh Marasabessy dalam sambutannya memberikan apresiasi khusus kepada Adnan Husein (Ko Nan) yang dinilai memiliki peran besar dalam terselenggaranya kegiatan ini.

“Ini bukti bahwa adat dan tradisi masih hidup di tengah masyarakat,” ungkapnya.
Ia juga mengajak generasi muda untuk menjadikan GHS sebagai kebanggaan identitas daerah.

“Pemerintah daerah akan selalu hadir dan berkomitmen mendukung pelestarian budaya dan kearifan lokal,” tegasnya.
Menutup sambutan, Wabup Saleh menekan tombol sirine yang disambut pelepasan balon ke udara sebuah simbol dimulainya perjalanan panjang para peserta mengelilingi Pulau Sulabesi.
Prosesi berlanjut dengan penyematan ban kapten oleh Wabup bersama unsur Forkopimda, Kapolres, perwakilan Dandim, pimpinan OPD, Ketua Panitia dan penasehat panitia kepada para ketua tim.

Suasana kemudian berubah menjadi lebih emosional saat tarian kreasi GHS ditampilkan, disusul kumandang adzan yang menggema di benteng tua tersebut. Sejenak, waktu terasa melambat. Haru mulai menyelimuti, ketika para peserta bersiap memulai perjalanan mereka.
Puncaknya, Wabup Saleh Marasabessy mengibarkan bendera start. Dengan iringan sholawat, para peserta melangkah keluar dari Benteng De Verwachting, memulai ritual mengelilingi Pulau Sulabesi.

Tangis haru tak terbendung. Panitia, peserta, tamu undangan, hingga masyarakat yang memadati lokasi, larut dalam suasana emosional. Gabalil Hai Sua bukan sekadar perjalanan fisik—ia adalah perjalanan batin, tentang pulang, tentang identitas, dan tentang menjaga warisan yang tak lekang oleh waktu.(NN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.