Dabus Akbar Topo: Ketika Zikir Menjadi Bahasa Persatuan

oleh -412 Dilihat
oleh

Gonone.id — Malam di Kelurahan Topo, Kecamatan Tidore, Sabtu (18/4/2026), tidak sekadar dipenuhi lantunan zikir. Ia menjelma ruang batin yang mempertemukan agama, tradisi, dan harapan tentang masa depan yang lebih kokoh. Di Gedung Serbaguna lingkungan 3, Dabus Akbar ke-5 Majelis Zikir Al-Awwaliyah digelar bukan hanya sebagai ritual, tetapi sebagai pernyataan kebudayaan.

Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe, berdiri di hadapan jamaah dengan nada yang lebih reflektif ketimbang seremonial. Ia tidak hanya memberi sambutan, tetapi mengajak hadirin membaca ulang makna beragama dalam kehidupan berbangsa.

“Atas nama Pemerintah Provinsi Maluku Utara, saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada panitia dan seluruh jamaah,” ujarnya. Ia menekankan bahwa dinamika pengamalan nilai-nilai agama hari ini menunjukkan bahwa agama bukan sekadar identitas, melainkan energi sosial yang menghidupkan.

Bagi Sarbin, Dabus atau yang dikenal sebagai Taji Besi bukan tradisi yang beku dalam sejarah. Sejak era 1980-an hingga kini, ia terus bergerak, beradaptasi, dan menemukan bentuk-bentuk baru yang memperkuat relasi antara agama dan budaya. Dari sanalah, katanya, lahir peradaban-peradaban kecil yang menopang kehidupan masyarakat.

“Negeri kita, Maluku Kie Raha, memiliki spirit keagamaan yang tumbuh luar biasa. Ini semua tidak lepas dari peran para joguru, ulama, dan tokoh masyarakat yang terus memohon keridhaan Allah SWT,” kata Sarbin.

Ia menyebut, kekuatan itu pula yang menjaga negeri ini tetap berada dalam cita-cita ideal: baldatun wa rabbun ghafursebuah negeri yang baik dan mendapat ampunan Tuhan.

Ketua Panitia, Taufik A. Kadir, menyampaikan bahwa Dabus Akbar bukan agenda baru. Ia telah dimulai sejak 2021 dan terus berlanjut hingga tahun kelima ini. Namun, yang dijaga bukan sekadar keberlanjutan acara, melainkan ruhnya.

“Nilai utamanya adalah merawat tradisi dan membangun silaturahmi antar majelis zikir se-Kota Tidore Kepulauan,” ujarnya.

Dabus Akbar kemudian tumbuh menjadi agenda tahunan Majelis Zikir Al-Awwaliyah. Setiap tahun, mereka mengundang berbagai kelompok zikir dari kelurahan lain membuka ruang temu yang melampaui batas administratif, bahkan ego kelompok.

Malam itu, sejumlah majelis hadir: dari Soa Sio, Gurabunga, Dokiri, Tuguiha, Soadara, Jaya, hingga Tomagoba. Semuanya berkumpul dalam satu irama, satu gerak, satu tujuan.

Di pusat ritual, berdiri Joguru Sarjono Haerudin, memimpin jalannya Dabus, didampingi para imam dan pendamping Imam Karim Husen, Abdurrahman Abubakar, Ahmad Jafar, Makan Kasim, Adam Ali, Arif Jadi, Suaib Umar, Ramli, hingga Abubakar. Mereka bukan sekadar pelaku, melainkan penjaga ingatan kolektif.

Kepala Kelurahan Topo, Ade Bahtiar, melihat kegiatan ini sebagai refleksi kekuatan masyarakat itu sendiri.

“Dabus Akbar ini menegaskan bahwa kekuatan masyarakat terletak pada persatuan dan nilai-nilai spiritual,” katanya.

Menurutnya, kehadiran Wakil Gubernur, Asisten I Setda Kota Tidore, Camat Tidore, hingga Ketua TP PKK Kecamatan menjadi penanda bahwa negara tidak absen dalam ruang-ruang spiritual warganya.

Namun ia mengingatkan, makna kegiatan ini tidak berhenti pada kehadiran pejabat.

“Ini bukan sekadar seremonial, tetapi pernyataan bersama bahwa kebersamaan dan nilai keagamaan adalah fondasi utama membangun masyarakat yang kokoh dan berdaya,” ujarnya.

Sementara itu, Asisten I Setda Kota Tidore, Rudy Ipaenin, yang mewakili Wali Kota, menyampaikan apresiasi serupa. Ia menilai Dabus Akbar bukan hanya memperkuat tradisi, tetapi juga memperdalam ketakwaan.

“Semakin kita dekat kepada Allah SWT, semakin kuat pula persatuan kita,” katanya.

Di tengah dunia yang bergerak cepat dan sering kali tercerai-berai oleh kepentingan, malam itu di Topo menjadi pengingat sederhana: bahwa persatuan bisa lahir dari zikir, dari tradisi yang dirawat, dan dari kesadaran kolektif bahwa agama dan budaya bukan dua kutub yang berseberangan, melainkan dua tangan yang saling menguatkan.

Dan mungkin, di situlah Dabus menemukan maknanya yang paling dalam. Bukan pada atraksi fisik, tetapi pada keteguhan batin sebuah masyarakat yang memilih untuk tetap bersama.(NN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.