Gonone.id— Pagi yang semestinya berjalan rutin di perairan Pelabuhan Goto, Kota Tidore Kepulauan, mendadak berubah tegang. Sebuah kapal tol laut dilaporkan mengalami kendala hingga kandas, Kamis (9/4/2026) sekitar pukul 07.30 WIT. Aktivitas sandar sempat terganggu, sebelum kapal akhirnya berhasil keluar dari titik kandas pada pukul 08.00 WIT.
Pelaksana Tugas Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (KUPP) Kelas II Soasio, A. Rahim Taha, menjelaskan kapal tersebut sebelumnya bertolak dari Namlea dan tengah bersiap merapat ke dermaga saat insiden terjadi.
Berdasarkan keterangan kru dan nahkoda, kapal berada terlalu dekat dengan daratan. Di area tersebut terdapat kawasan terumbu karang atau reep—dalam istilah lokal Tidore dikenal sebagai “nyare”—yang berada di sekitar tanjung. Upaya menghindari kawasan itu justru membuat kapal kehilangan posisi aman hingga akhirnya kandas.
“Syukurnya kapal hanya kandas sebagian, tidak sepenuhnya,” ujar Rahim.
Ia menegaskan, insiden ini tidak lepas dari kesalahan perhitungan jalur masuk pelabuhan. Faktor pengalaman nahkoda juga disebut menjadi salah satu penyebab.
“Ini murni kesalahan perhitungan. Nahkoda juga belum berpengalaman di wilayah ini,” katanya.
KUPP Soasio, lanjut Rahim, akan memanggil pihak kapal untuk dimintai keterangan resmi setelah proses sandar selesai dilakukan. Evaluasi akan dituangkan dalam berita acara guna memastikan penyebab pasti kejadian.
Temuan lain yang mengemuka adalah kapal tersebut belum mengantongi Surat Perintah Masuk (SPM) saat memasuki wilayah pelabuhan. Padahal, prosedur itu menjadi syarat utama sebelum kapal bersandar.
“Sudah tiga kali masuk, tapi kali ini tidak ada pengajuan SPM dan tidak ada pemberitahuan sebelumnya,” ujarnya.
Ironisnya, pengajuan SPM baru dilakukan setelah kapal mengalami kendala. Hal ini memperlihatkan masih adanya kelonggaran dalam kepatuhan terhadap prosedur pelayaran yang seharusnya bersifat wajib.
Terkait layanan jasa pandu, Rahim mengungkapkan bahwa fasilitas tersebut hingga kini belum tersedia di wilayah Maluku Utara, termasuk Tidore. Layanan pandu sendiri umumnya hanya tersedia di pelabuhan tertentu sebagai bagian dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
Kapal yang mengalami kandas diketahui merupakan kapal tol laut dengan muatan sembilan bahan pokok serta material bangunan. Kapal bertuliskan “Muara Mas” Makassar itu diketahui berlayar dari Surabaya dan melayani rute reguler di kawasan timur Indonesia.
Sebagai langkah antisipasi, KUPP Soasio berencana memasang tanda-tanda darurat di sekitar lokasi rawan. Selain itu, melalui Kantor Distrik Navigasi Ambon, akan diusulkan pemasangan rambu suar guna meningkatkan keselamatan pelayaran.
“Kami upayakan pemasangan tanda darurat dan mengusulkan rambu suar agar kapal-kapal yang masuk bisa lebih aman dan kejadian seperti ini tidak terulang,” pungkas Rahim.(NN)








