Menjaga Waktu, Merawat Perbedaan dari Sigi Kolano

oleh -570 Dilihat
oleh

Gonone.id — Di pelataran Sigi Kolano, Jumat pagi (20/3/2026), takbir menggema dalam irama yang tenang. Tidak tergesa, tidak pula gamang. Seperti sesuatu yang sudah lama diyakini, bahkan sebelum perdebatan tentang awal Ramadan dan Syawal menjadi wacana publik seperti sekarang.

Di tempat itu, Kesultanan Tidore kembali melaksanakan Shalat Idul Fitri 1447 Hijriah lebih awal. Sebuah keputusan yang tidak lahir dari reaksi sesaat, melainkan dari tradisi panjang yang diwariskan turun-temurun.
Bagi Husain Alting Sjah, waktu tidak sekadar ditentukan, tetapi dijaga.

“Torang punya standar sendiri dalam penetapan 1 Ramadan dan 1 Syawal,” katanya dalam wawancara. “Karena torang punya kalender tertua, yang sudah sangat lama digunakan. Dan kalau kita lihat, kalender itu juga bersesuaian dengan kalender global hari ini.”

Di tengah dunia yang semakin seragam oleh sistem, Tidore justru berdiri dengan caranya sendiri tidak untuk menolak, tetapi untuk merawat apa yang sudah ada.

Namun Sultan tidak berhenti pada penjelasan tentang kalender. Ia membawa percakapan ke arah yang lebih dalam: tentang bagaimana perbedaan seharusnya dipahami.

“Apa yang berbeda, kami tetap memberikan penghormatan dan apresiasi setinggi-tingginya,” ujarnya. “Jangan jadikan perbedaan itu sebagai pertentangan yang merugikan kita semua.”

Nada itu terasa penting, terutama ketika perbedaan kerap kali berubah menjadi sekat. Padahal, dalam pandangannya, perbedaan justru bisa menjadi energi.

“Marilah kita jadikan perbedaan sebagai motivasi,” katanya. “Kalau kita menghargai perbedaan, insya Allah akan jadi indah.”

Pagi itu, masyarakat dan perangkat adat Kesultanan berdiri dalam saf yang rapi. Sholat Id dilaksanakan dengan penuh kekhusyukan. Tidak ada yang berubah dari tata cara: tujuh kali takbir di rakaat pertama, lima kali di rakaat kedua. Sebuah kesamaan yang melampaui perbedaan waktu.

“Di mana pun dilaksanakan, esensinya tetap sama,” kata Sultan. “Hari ini, besok, atau di negara lain sekalipun. Mereka tetap bersalawat, tetap bertakbir. Karena Islam sangat menghargai perbedaan.”

Di beberapa negara, lanjutnya, Idul Fitri juga jatuh pada hari yang berbeda. Namun perbedaan itu tidak mengubah makna ibadah. Tidak mengurangi nilai kebersamaan. Tidak pula menggeser tujuan dari Ramadan itu sendiri.

Sigi Kolano pagi itu bukan hanya menjadi tempat ibadah. Ia adalah cermin dari kearifan lokal yang bertahan di tengah arus modernitas bahwa tradisi tidak harus ditinggalkan untuk bisa relevan.

Di Tidore, waktu tidak selalu mengikuti. Kadang, ia justru dipertahankan.
Dan dari sana, lahir satu pelajaran sederhana: bahwa perbedaan, jika dipahami dengan lapang, tidak akan memecah. Ia justru bisa menyatukan, dengan cara yang lebih sunyi dan mungkin, lebih bermakna.(NN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.