GABALIL HAI SUA 2026: Tradisi dan Refleksi Historis

oleh -140 Dilihat
oleh

Oleh : Risman Tidore
(Pemerhati Kebijakan Publik dan Civil Society).

“Imajinasi adalah tujuan sejarah. Saya melihat budaya sebagai upaya untuk benar-benar mewujudkan impian kita bersama.” – Terence McKenna

Banyak dari kita mengetahui dan mengenal dengan benar bahwa kearifan lokal (local wisdom) merupakan warisan berharga dari para leluhur yang sejatinya menjadi kekayaan sejarah.
Warisan yang akan terus menerus membentuk generasi cara berpikir, bersikap, dan berperilaku dalam masyarakat dalam menghadapi kehidupan.

Warisan tidak hanya tercatat dalam peninggalan sejarah tapi hidup secara turun-temurun melalui tutur, tindak, dan tradisi yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ketiga bagian tersebut menjadi jembatan penting dalam mewariskan nilai leluhur agar tetap terjaga dan terawat sebagai identitas diri kebanggaan masyarakat lokal sekaligus menjadi sebuah keunikan sebagai entitas yang cinta akan budaya lokal.

Di Maluku Utara, masyarakat kepulauan sula telah lama hidup dengan nilai-nilai kearifan lokal, filosofi Dad Hia Ted Sua (Bersatu Bangkitkan Daerah) dan Spirit Pamanatol (saling menjaga hubungan sesama manusia). Nilai-nilai budaya ini bukanlah sekedar konseptual semata, melainkan pendangan hidup yang membentuk cara seseorang bersikap di tengah masyarakat.

Bukan tanpa alasan sebab di tengah derasnya arus globalisasi dan gelombang modernisasi yang tak bisa terelakkan. Hal ini akan membawa tantangan besar terhadap kemewahan identitas lokal, bagaimana generasi sula kepulauan sekarang tetap tumbuh dan berkembang tanpa kehilangan akar budaya peninggalan leluhur. Selain itu, tantangan yang sedang melanda di generasi sekarang yakni mereka tumbuh dalam lingkungan yang mengenal budaya populer global daripada nilai-nilai lokal yang lahir dari warisan leluhur.

Hal tersebut mengundang keprihatinan pemerhati budaya di daerah akan memudarnya kesadaran pada kearifan lokal sebagai warisan tak ternilai sebagai pondasi identitas dan karakter sebuah daerah.

Bukan sekadar peninggalan masa lalu, kearifan lokal merupakan representasi dari cara pandang, sikap hidup, dan sistem nilai yang sudah diuji oleh zaman.

Nilai yang ditinggalkan oleh para leluhur merupakan sebuah nilai yang berharga sehingga sayang tinggal sejarah. Untuk itu, sudah menjadi tugas bersama tidak sekadar melestarikan tapi menghidupkan kembali nilai-nilai luhur dalam bentuk yang bisa menjangkau cara berpikir dan cara hidup generasi berikutnya.

Diketahui, tradisi Gabalil Hai Sua merupakan ritual berjalan mengelilingi Pulau Sulabesi di Kepulauan Sula, Maluku Utara. Ritual ini dapat dilakukan secara perorangan maupun berkelompok dan kini tradisi tersebut resmi dilindungi negara.

Tradisi ini biasanya dilakukan masyarakat yang hendak bepergian atau merantau keluar dari negeri Pulau Sula, baik untuk melanjutkan pendidikan maupun mencari pekerjaan. Untuk menjalankan tradisi ini dalam kondisi bersih secara lahir dan batin serta dipandu oleh tokoh adat setempat.

Sejak di inisiasi sebagai perlombaan bagi komunitas sosial yang bersifat ritual dalam sebuah event daerah berlabel Festival Maksaira pada tahun 2019, Pemerintah Daerah kabupaten Kepulauan Sula resmi menyelenggarakan agenda Gabalil Hai Sua diselenggarakan untuk pertama kalinya sebagai perlombaan yang menarik perhatian luas. Dititik inilah semua mata orang pun mulai tertuju ke sana.

Pelaksanaan ritual Gabalil Hai Sua merupakan sarana kohesi sosial atau mekanisme yang digunakan untuk memperkuat ikatan sosial dan meningkatkan kesatuan dalam kehidupan masyarakat di pulau Sulabesi kabupaten kepulauan sula.

Sebab ritual ini merupakan budaya otentik yang memiliki keunikan tersendiri dimana melalui proses perjalanan mengelilingi pulau Sulabesi sepanjang 180 kilometer dengan melintasi 6 kecamatan dan 41 desa kini menjadi aset budaya yang tidak ditemukan di daerah manapun.

Kemanfaatan yang paling utama dari Suksesi Gabalil Hai Sua adalah pelestarian budaya dengan mengintegrasikan ritual budaya kepada generasi saat ini, guna membantu menjaga dan melestarikan tradisi leluhur yang diwariskan turun temurun, sebab dalam retorika publik ritual ini nyaris terancam punah dari memori kolektif generasi kini.

Dalam konteks ini, tema besar tentang pelestarian budaya yang nyaris punah perlu mendapatkan perhatian bersama terutama kalangan generasi muda dalam memperkuat sekaligus mempertahankan karakteristik dan adat istiadat masyarakat agar suksesi Gabalil Hai Sua tidak hanya menjadi ajang perlombaan ritual semata akan tetapi mampu bermetamorfosa menjadi destinasi lokal yang otentik dan berkesan bagi wisatawan lokal dan domestik.

Jika suksesi Gabalil Hai Sua berorientasi pada tema besar pelestarian budaya yang otentik, maka pada gilirannya memberikan kesan positif terutama membangun citra destinasi lokal yang berkualitas, membentuk opini publik mengenai reputasi sebagai destinasi budaya yang tidak hanya indah tetapi juga terkelola secara bertanggungjawab dan berkelanjutan.

Dan untuk merealisasikan harapan dan cita-cita besar tersebut tentu _action_ membutuhkan perhatian bersama berbagai stakeholder yakni pemerintah daerah, pemerhati budaya, akademisi, kelompok intelektual dan komunitas baik yang didaerah maupun diluar daerah.

Secara inklusif upaya ini menunjukkan bahwa dengan adanya kolaborasi dan komitmen bersama berbagai pihak (stakeholder) memungkinkan adanya kemanfaatan ganda bagi daerah kabupaten Kepulauan sula dalam project destinasi masa depan sebagai kota budaya dan wisata 2030.

Dengan demikian menjaga keberlangsungan tradisi melalui pelaksanaan Gabalil Hai Sua yang maksimal dan berkelanjutan sehingga melalui perjalanan religi dan budaya tersebut, masyarakat lokal mendapatkan peluang ekonomi dari penyediaan layanan, produk dan atraksi budaya serta meningkatkan solidaritas sosial, kepercayaan, dan identitas bersama dalam masyarakat yang tersebar di 41 desa dan 6 kecamatan di pulau sulabesi, kabupaten Kepulauan sula.

Kini momentumnya telah tiba, suksesi Gabalil Hai Sua yang akan digelar pada Mei 2026 mendatang, akan menjadi atraksi yang monumental bagi regenerasi, memperkuat identitas dan kebanggaan lokal menuju Kepulauan Sula sebagai Kota Budaya dan Wisata 2030.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.