Gonone.id — Setahun sudah Sherly Tjoanda Laos memimpin Maluku Utara. Di Bumi Moloku Kie Raha, satu tahun bukan sekadar hitungan kalender. Ia menjadi penanda arah, gaya, dan keberanian dalam mengambil keputusan di tengah dinamika daerah kepulauan.
Sejak dilantik pada 20 Februari 2025, Sherly menegaskan satu hal: pemerintahan harus hadir, bukan hanya terlihat. Ia memilih lebih banyak turun ke lapangan, menyapa warga hingga pelosok, memantau sekolah, rumah sakit, serta memastikan pembangunan infrastruktur berjalan sesuai rencana.
Gaya kepemimpinannya dikenal responsif. Tak berhenti pada laporan di atas meja, ia kerap memeriksa langsung kondisi di lapangan sebelum mengambil keputusan. Dalam berbagai kunjungan kerja, Sherly membuka ruang dialog dengan masyarakat. Ia mendengar keluhan, mencatat kebutuhan, lalu meminta jajarannya segera menindaklanjuti.
Baginya, kebijakan bukan sekadar angka dalam dokumen perencanaan, melainkan manfaat yang harus benar-benar dirasakan warga. Pemerintah, tegasnya dalam beberapa kesempatan, harus cepat merespons dan bertanggung jawab atas setiap keputusan yang diambil.
Di sektor tata kelola pemerintahan, Sherly mendorong penguatan pengawasan internal serta keterbukaan informasi publik. Transparansi pengelolaan APBD menjadi salah satu fokus utama. Indikatornya mulai terlihat dari capaian Monitoring Center for Prevention (MCP) KPK yang bergerak dari zona kuning menuju zona hijau. Seluruh organisasi perangkat daerah diinstruksikan bekerja profesional, terukur, dan berbasis kinerja.
Kepemimpinan yang responsif juga tercermin dalam penanganan isu-isu strategis daerah, mulai dari stabilitas harga kebutuhan pokok, peningkatan layanan kesehatan, hingga dukungan bagi pelaku UMKM lokal. Koordinasi lintas sektor dipercepat agar persoalan tidak berlarut dan solusi dapat segera dijalankan.
Wakil Ketua DPRD Kota Tidore Kepulauan, Ridwan Moh Yamin, menilai kepemimpinan Sherly membawa semangat baru dalam birokrasi. Pendekatan komunikatif dan terbuka dinilai memperkuat sinergi antara pemerintah provinsi dengan kabupaten/kota serta pemerintah pusat.
“Ini pesona kepemimpinan yang membawa aura positif bagi pembangunan daerah,” ujarnya.
Dengan semangat kolaborasi dan prinsip akuntabilitas, duet kepemimpinan Sherly-Sarbin kini memasuki tahun kedua dengan sejumlah harapan yang mengiringi. Di tanah Moloku Kie Raha, konsistensi menjadi kunci bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang tahun pertama, melainkan tentang jejak panjang yang mampu menghadirkan kesejahteraan bagi rakyat di seluruh penjuru Maluku Utara.(red)








