Dari Jalan Terjal 51 Tahun Pengabdian, Musholla Nurul Iman Resmi Berdiri di Gurabati

oleh -122 Dilihat
oleh

Gonone id – Pagi itu, Selasa (17/2/2027), langit di RW 01 Kelurahan Gurabati, Kecamatan Tidore Selatan, seolah ikut meneduhkan suasana. Di antara deretan rumah warga, berdiri sebuah bangunan sederhana namun sarat makna: Musholla Nurul Iman, yang diresmikan dengan rasa haru dan syukur.

Di hadapan Husain Sjah, Wakil Wali Kota Tidore Ahmad Laiman, serta para tamu undangan, penanggung jawab pembangunan, Ahmad Hatari, tidak sekadar meresmikan bangunan. Ia meresmikan sebuah perjalanan panjang 51 tahun pengabdian yang berliku dan terjal.

“Sesungguhnya sesuatu yang indah akan tepat pada waktunya,” ucap Hatari, mengawali kisahnya. Kalimat itu meluncur pelan, seperti doa yang lama dipendam. Ia teringat masa kecilnya, ketika akses ke tempat shalat begitu terbatas. Musholla yang ada di samping lokasi bangunan baru ini, katanya, dibangun tanpa satu sendok semen pun hanya batu kapur dan gotong royong warga. Sampai hari ini, musholla lama itu masih berdiri, masih dipakai, dan hanya tersisa tiga generasi yang menjadi saksi awal pembangunannya.

Lalu Hatari membawa hadirin menyusuri lorong waktu.

Tanggal 23 Maret 1973, ia menjejakkan kaki di Irian Jaya kini Papua. Enam bulan menganggur, sebelum dipanggil langsung oleh Wakil Gubernur untuk bekerja. Dua puluh tahun di Kantor Gubernur, lalu 13 tahun sebagai Kepala Badan Keuangan dan Pengelolaan Aset Daerah di Sorong. Ketika Barnabas Suebu kembali terpilih sebagai gubernur, Hatari dipanggil lagi mengemban jabatan strategis di Provinsi Papua.

“Jalan historisnya panjang. Berliku dan terjal,” katanya.

Dari birokrasi, ia melangkah ke politik. Dipanggil Surya Paloh, menjadi calon anggota DPR RI nomor urut satu dari Daerah Pemilihan Maluku Utara. Ia berbicara tentang “investasi sosial” yang telah ia lakukan puluhan tahun sebuah istilah yang mungkin tak banyak orang pahami. Di daratan Halmahera, ia mengaku menyumbang untuk rumah ibadah tanpa membeda-bedakan. Jika tak ada gereja, ia sumbangkan ke masjid. Jika ada gereja dan masjid, ia bagi sama rata. “Harus imbang,” tegasnya.

Empat puluh satu tahun sebagai pegawai negeri, sepuluh tahun sebagai anggota DPR RI dua periode, terakhir sebagai Wakil Ketua Komisi XI. Total 51 tahun pengabdian.

“Dan hasil dari 51 tahun itu,” ujarnya, menatap bangunan di hadapannya, “adalah Musholla Nurul Iman ini.”

Ia tak menutup pidatonya dengan retorika politik. Ia menutupnya dengan rasa syukur. Dengan harap agar Allah SWT mencurahkan berkah, dan agar masyarakat dapat menyongsong Ramadhan dengan hati yang bersih. Ada kebanggaan, tapi juga kerendahan hati.

Sementara itu, Sultan Tidore, Husain Sjah, membuka sambutannya dalam bahasa daerah:

“Jo ngon moi moi papa se yuma yaya se goa io se nongoru hira se bira yang fangare duka se gogoru.”

Sebuah penghormatan kepada hadirin yang dikasihi dan disayangi.

Ia menyebut Ahmad Hatari sebagai kebanggaan Gurabati bukan karena uang yang diberikan, tetapi karena kesibukan dan tanggung jawab besar tak menghalangi dirinya menyediakan tempat paling istimewa: masjid dan musholla.

“Kesuksesan itu tidak ada artinya kalau kitorang pe jidat ini tidak taruh di lantai masjid maupun musholla,” ujar Sultan. Sebuah kalimat yang menggugah, bukan untuk memuji, tetapi untuk mengingatkan.

Ia bahkan meminta jamaah, di sujud terakhir mereka, mendoakan kesehatan Hatari dan keluarga. Dan bersama-sama mengirimkan Al-Fatihah untuk almarhumah Ibu Hajjah Mariam, istri pertama Ahmad Hatari.

Di tempat yang sama, Wakil Wali Kota Ahmad Laiman menegaskan bahwa Musholla Nurul Iman adalah simbol keimanan dan persatuan masyarakat Gurabati. Ia menyebut bangunan itu sebagai representasi kerja keras dan keikhlasan Ahmad Hatari dan Abdullah Hatari.

“Mari kita jaga dan rawat bersama. Semoga menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk beribadah,” ujarnya.

Turut hadir Anggota DPRD Provinsi Maluku Utara Abdullah Hatari, para pimpinan OPD, Camat Tidore Selatan, Lurah Gurabati, serta tokoh masyarakat, agama, adat, pemuda, dan para imam/syara.

Pagi itu, Musholla Nurul Iman bukan sekadar bangunan baru. Ia adalah simpul dari perjalanan panjang seorang anak kampung yang menempuh jalan terjal, lalu kembali untuk menaruh jidatnya di tanah kelahirannya sendiri.

Dan dari Gurabati, pengabdian itu menemukan rumahnya.(NN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.