Merawat Jejak Ulama, Merajut Masa Depan Tidore

oleh -167 Dilihat
oleh

Gonone. id – Malam di Tomalou bergerak pelan, seperti waktu yang enggan beranjak dari halaman Masjid Agung Nurul Bahar. Di sana, Sabtu (7/2/2026), ingatan kolektif warga Tidore dipertemukan kembali dalam Peringatan Haul ke-III KH. Muhammad Habib Bin Abu Na’im. Wali Kota Tidore Kepulauan Muhammad Sinen dan Wakil Wali Kota Ahmad Laiman hadir, ditemani Ketua Tim Penggerak PKK Hj. Rahmawati Muhammad Sinen. Bukan sekadar acara seremonial, melainkan ruang temu antara masa lalu dan masa depan.

Dalam sambutannya, Muhammad Sinen menempatkan haul sebagai cermin sejarah. Ia mengutip pesan “Jas Merah” Bung Karno jangan sekali-kali melupakan sejarah seolah hendak menegaskan bahwa Tidore tidak dibangun di ruang kosong. Ada tapak ulama, ada keringat guru, ada doa orang-orang saleh yang menjadi fondasi kota ini.

Menurutnya, arus globalisasi ibarat ombak yang tak bisa ditahan, tetapi bisa diarahkan. “Generasi muda Tidore bersyukur telah memiliki pondasi iman dan akhlak. Itu benteng kita menghadapi budaya luar,” ujarnya. Kata-kata itu disambut anggukan jamaah yang memenuhi masjid, seolah menyepakati bahwa modernitas tak boleh menelan jati diri.

Bagi Sinen, sosok KH. Muhammad Habib bukan hanya nama yang diperingati setahun sekali. Almarhum adalah guru peradaban, pengasuh Pondok Pesantren Darul Mukhlasin yang menanamkan dua sayap ilmu  pengetahuan dan agama. “Dari tangan beliau lahir generasi berakhlakul karimah. Haul ini menjadi media silaturahim sekaligus mengenang jasa besar itu,” tuturnya.

Harapan wali kota sederhana tetapi dalam keberkahan bagi masyarakat dan semakin kuatnya ukhuwah Islamiyah. Ia melihat hubungan pemerintah dan tokoh agama sebagai dua sisi mata uang pembangunan. Tanpa nilai spiritual, kebijakan hanya menjadi angka-angka dingin.

Ketua Panitia Ustad Basri melaporkan, rangkaian haul digelar selama tiga hari. Dimulai dari ziarah kubur KH. Muhammad Habib dan para tokoh Tomalou, khatam hafalan 30 juz oleh istri almarhum, hingga puncak acara malam itu. “Kami berterima kasih atas dukungan penuh Pemerintah Kota Tidore,” katanya, nada suaranya bergetar oleh haru.

Di antara saf jamaah tampak para pimpinan OPD, anggota DPRD, tokoh agama dan masyarakat. Tausiyah Al Habib Zaky bin Abdurrahman Alaydrus menutup rangkaian acara, mengalir seperti air yang menyejukkan ingatan.

Haul di Tomalou bukan sekadar mengenang yang telah pergi. Ia adalah penegasan bahwa Tidore masih setia pada akarnya. Di tengah hiruk politik dan pembangunan, nama KH. Muhammad Habib Bin Abu Na’im kembali menjadi kompas moral mengingatkan bahwa kota ini tumbuh dari doa, ilmu, dan keteladanan.(NN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.