Pengurus Baru KONI Tidore Diminta Bangun Orkestra Kolaborasi

oleh -214 Dilihat
oleh

Gonone.id – Di ruang Aula Penginapan Bougenville, Sabtu sore (7/2/2026), aroma optimisme bercampur pekerjaan rumah yang tak ringan. Musyawarah Olahraga KONI Kota Tidore Kepulauan bukan sekadar forum seremonial memilih pemimpin baru, melainkan momentum menata ulang mesin prestasi olahraga daerah.

Sekretaris Umum KONI Maluku Utara, Mansur Sangaji, datang membawa pesan tegas: kolaborasi adalah kunci. Tanpa itu, organisasi hanya akan menjadi menara sunyi yang jauh dari denyut lapangan.

“Pengurus baru harus memahami bahwa kekuatan KONI bukan pada struktur, tetapi pada kemampuan merangkul cabang olahraga. Induk hanya melihat secara utuh, yang bekerja di garis depan adalah cabor,” ujarnya di hadapan peserta Musorkab.

Mansur menekankan, tahun ini kalender olahraga dipenuhi agenda. Setiap event menuntut respons cepat, koordinasi rapi, dan komunikasi tanpa sekat—baik di internal kepengurusan maupun dengan jaringan eksternal.

“Kolaborasi di dalam penting, tapi keluar juga tak kalah penting. Dengan cabor di dalam maupun di luar Tidore, bahkan lintas kabupaten/kota. Dari situlah prestasi bisa tumbuh,” katanya.

Baginya, kepengurusan baru tidak boleh terjebak pada rutinitas administratif. Tantangan sesungguhnya adalah menciptakan ekosistem yang membuat atlet merasa dirawat, pelatih merasa dihargai, dan kompetisi menjadi ruang tumbuh yang sehat.

Harapan itu kini diletakkan di pundak Ahmad Laiman, Wakil Wali Kota Tidore Kepulauan, yang resmi ditetapkan sebagai Ketua Umum KONI Kota Tidore periode 2026–2030.

Di forum yang sama, Ahmad Laiman menyampaikan terima kasih atas kepercayaan para pengurus cabang olahraga. Ia sadar, jabatan ini bukan mahkota, melainkan tanggung jawab sosial.

“KONI punya kewenangan pembinaan. Kami ingin ada cabor prioritas yang benar-benar dikembangkan, bukan sekadar hidup, tetapi berprestasi dan dicintai masyarakat,” ujarnya.

Bagi orang nomor dua Tidore itu, olahraga bukan pelengkap pembangunan. Ia adalah fondasi pembentukan manusia seutuhnya jasmani, mental, dan karakter.

“Pembangunan manusia tidak akan berhasil jika fisiknya tidak sehat. Fisik dan mental ditempa melalui olahraga,” tuturnya, seperti sedang mengingatkan bahwa stadion dan lapangan sama pentingnya dengan ruang kelas.

Ahmad Laiman juga melihat dimensi lain yang kerap luput: ekonomi. Prestasi olahraga, kata dia, bisa menjadi pintu pendapatan baru, baik bagi atlet maupun komunitas. Ia menyinggung potensi sport tourism yang mulai dilirik banyak daerah.

“Olahraga bisa menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar. Ini harus menjadi visi induk olahraga ke depan,” katanya.

Musorkab berakhir, tetapi pekerjaan baru saja dimulai. Di antara tepuk tangan dan foto bersama, tersisa tantangan membangun orkestra kolaborasi yang digarisbawahi Mansur Sangaji.

Apakah kepengurusan Ahmad Laiman mampu menerjemahkan pesan itu menjadi medali, liga yang hidup, dan atlet yang percaya masa depannya terjaga?

Tidore menunggu jawabannya di lapangan, bukan di atas kertas.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.