Tidore Utara, Tiga Kali Berturut-turut Menjaga Mahkota Al-Qur’an

oleh -200 Dilihat
oleh

Gonone. id – Di Aula Kie Matubu BPMP Maluku Utara, Kamis malam (5/1/2026), gema takbir dan haru berkelindan. Kecamatan Tidore Utara kembali menancapkan namanya sebagai Juara Umum Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-31 Tingkat Kota Tidore Kepulauan. Ini bukan sekadar kemenangan, melainkan peneguhan tradisi: tiga kali berturut-turut mereka menggenggam piala bergilir, seolah menolak menyerah pada waktu.

Piala itu diserahkan langsung oleh Wali Kota Tidore Kepulauan, Muhammad Sinen, kepada Kepala Kecamatan Tidore Utara. Sorak para kafilah dan warga mengalir seperti ombak di pesisir Rum tenang namun sarat kebanggaan. Bagi Tidore, MTQ bukan hanya kompetisi membaca ayat suci, tetapi ruang di mana identitas, iman, dan masa depan anak-anaknya dirawat.

Dalam sambutannya, Muhammad Sinen menegaskan bahwa MTQ adalah benteng kultural di tengah arus digital yang kerap menggerus pegangan hidup generasi muda. “MTQ bukan sekadar ajang perlombaan. Ia adalah syiar Islam, cara kita membumikan nilai Al-Qur’an dalam keseharian,” ujarnya dengan nada seorang ayah yang mengingatkan anak-anaknya pulang sebelum senja.

Ia mengakui, zaman telah berubah. Gawai berada di genggaman, informasi melimpah tanpa saringan. Di situlah agama harus hadir sebagai kompas. “Anak-anak kita butuh bekal yang kuat. Semoga perubahan zaman tidak menggoyahkan akhlak mereka,” katanya.

Harapan Wali Kota juga tertuju pada para juara yang akan mewakili Tidore ke tingkat provinsi. Tahun lalu, Tidore menorehkan sejarah sebagai Juara Umum MTQ Provinsi Maluku Utara. Tradisi itu ingin dipertahankan, meski fasilitas tak selalu sempurna. “Keterbatasan tidak pernah mengalahkan semangat orang Tidore,” tegasnya.

Keputusan Dewan Hakim melalui Surat Nomor: 04/SK.DH/MTQ-XXXI/TIKEP/II/2026 menempatkan Kecamatan Tidore Utara di puncak dengan nilai 570. Di bawahnya menyusul Tidore Selatan (437), Tidore Timur (202), dan Oba Utara (135). Angka-angka itu bukan sekadar statistik, melainkan jejak kerja panjang para guru ngaji, orang tua, dan majelis taklim yang saban malam menghidupkan huruf-huruf Al-Qur’an.

Malam penutupan itu juga diramaikan penyerahan hadiah Pawai Taaruf. Mobil hias Majelis Ta’lim Nurul Yaqin Kelurahan Rum keluar sebagai Terbaik I, disusul Al-Ikhlas Afa-Afa dan Mujahidin Rum. Para penonton setia pun tak pulang dengan tangan kosong; Wali Kota menyiapkan hadiah sebagai tanda terima kasih atas kecintaan mereka pada syiar Islam.

Di luar gedung, angin dari laut Tidore membawa suara anak-anak yang masih melantunkan ayat. Barangkali di sanalah makna sesungguhnya: MTQ bukan berakhir saat lampu dipadamkan, tetapi terus hidup di rumah-rumah, di langgar kecil, dan di hati orang-orang yang percaya bahwa masa depan kota ini ditulis dengan cahaya Al-Qur’an.(NN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.