Navigasi Masa Depan Pemuda Tidore

oleh -242 Dilihat
oleh

Gonone id – Musyawarah Daerah IV DPD KNPI Kota Tidore Kepulauan dibuka bukan sekadar sebagai seremoni organisasi, melainkan sebagai penanda babak baru kegelisahan pemuda membaca masa depan. Tema yang dipilih “Navigating the Future: Innovate, Integrate, Impact” terdengar seperti kompas yang berusaha menuntun arah, di tengah gelombang dinamika internal yang tak selalu tenang.

Pembukaan Musda dilakukan oleh Kepala BPBD Kota Tidore Kepulauan, Muhammad Abubakar akrab disapa M A yang pernah memimpin KNPI periode 2017–2020. Di hadapan peserta, ia memilih nada yang menenangkan.

Musyawarah tandingan, kata dia, bukanlah aib, melainkan gejala biasa dalam organisme bernama kepemudaan. Namun satu hal tak boleh goyah: KNPI di Tidore tetap satu rumah, dan musyawarah yang sah adalah rujukan bersama.

M A berbicara seperti orang yang mengenal denyut organisasinya. Ia mengingatkan bahwa pemuda kerap terjebak pada hasrat “terlihat baik”, bukan “menjadi baik”. Kalimat itu menggantung di ruangan, seolah menampar budaya pencitraan yang belakangan makin tebal. Ia lalu mengutip hadits Nabi, Khoirunnas anfa’uhum linnas sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain sebagai fondasi moral gerakan pemuda.

Dalam pandangannya, pemuda Tidore memikul peran strategis: motor pembangunan yang tak cukup berhenti pada diskusi konsep. Dari ruang kelas hingga lorong kampung, dari isu pendidikan sampai kerja sosial, pemuda dituntut menerjemahkan gagasan menjadi tindakan. Ia menautkan peran itu dengan agenda lebih luas program nasional Nawacita dan visi pemerintah daerah di bawah kepemimpinan Wali Kota Muhammad Sinen dan Wakil Wali Kota Ahmad Laiman. Stabilitas sosial, rasa aman, dan iklim kondusif disebutnya sebagai prasyarat agar mimpi pembangunan tidak berhenti di atas kertas.

Sebagai kepala BPBD, M A membawa perspektif kebencanaan ke forum kepemudaan. Masyarakat pesisir Tidore yang rentan abrasi, katanya, membutuhkan pemuda sebagai juru edukasi mitigasi. “Mari kita jaga alam agar alam jaga kita,” ucapnya mengulang tagline BPBD sebuah pengingat bahwa pembangunan tanpa kesadaran ekologis hanyalah menunda bencana.

Ia juga menekankan pentingnya ingatan sejarah organisasi. Pemuda yang tak memahami akar filosofisnya akan mudah terseret pragmatisme sesaat. Karena itu, regenerasi kepemimpinan KNPI harus ditempuh lewat mekanisme yang tertib: dukungan DPK dan OKP, verifikasi, serta kepatuhan pada aturan main. Legitimasi, baginya, bukan aksesori, melainkan napas organisasi.

Di luar ruang musyawarah, Tidore menyimpan potensi besar. M A menilai kontribusi pemuda selama ini telah terasa, namun masa depan menuntut lebih dari sekadar partisipasi rutin. Ketua KNPI yang kelak terpilih harus berani menghadirkan program nyata, bukan hanya jargon pergantian kepemimpinan.

“Musyawarah ini cukup satu kali. Tidak perlu tandingan,” tegasnya. Kalimat itu seperti garis bawah yang ingin mengakhiri bab pertikaian dan membuka bab kerja.

Pada akhirnya, Musda IV bukan hanya soal memilih ketua, melainkan menguji apakah pemuda Tidore berani menjadi generasi yang bermanfaat bukan sekadar generasi yang ingin tampak hebat. Di sanalah masa depan benar-benar dinavigasi: antara keberanian berinovasi, kemampuan berintegrasi, dan kesediaan memberi dampak.(NN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.