Gurabati dan Denyut Sepak Bola yang Tak Pernah Padam

oleh -557 Dilihat
oleh

Gonone.id – Sabtu malam di Aula SPN Polda Maluku Utara, Kelurahan Gurabati, udara terasa lain. Bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah penanda bahwa tradisi panjang sepak bola rakyat kembali menemukan babak barunya.

Panitia Pelaksana resmi meluncurkan Gurabati Open Tournament (GOT) ke-XXVIII Tahun 2026. Sebuah angka yang bukan hanya hitungan edisi, melainkan jejak ingatan kolektif masyarakat Maluku Utara tentang bagaimana bola mempersatukan kampung-kampung, kota, bahkan pulau.

Acara itu dibuka atas nama Gubernur Maluku Utara oleh Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Nurlaila Muhammad. Dari Kota Tidore Kepulauan hadir Staf Ahli Wali Kota Bidang Hukum, Politik, dan Pemerintahan Asis Hadad. Para utusan kepala daerah se-Maluku Utara turut mengambil tempat, seolah menegaskan bahwa GOT telah melampaui batas administratifnya sendiri.

Dalam sambutan Wali Kota yang dibacakan Asis Hadad, terselip nada bangga sekaligus lega. Selama hampir tiga dekade, GOT tetap bertahan sebagai panggung olahraga bergengsi yang aman dan meriah. “Ini bukan hanya kompetisi,” ujarnya, “tetapi media silaturahim para pecinta sepak bola, ruang untuk merawat persaudaraan dan sportivitas.” Kalimat itu terasa sederhana, namun memuat kenyataan yang sering luput: sepak bola di Gurabati bukan sekadar soal menang-kalah, melainkan tentang bagaimana orang-orang menemukan alasan untuk duduk berdampingan.

Asis tak lupa mengirim apresiasi kepada panitia, masyarakat Gurabati, sponsor, dan para tokoh yang setia menjaga nyala turnamen ini. Harapannya jelas dari lapangan-lapangan sederhana itu kelak lahir talenta yang membawa nama Tidore dan Maluku Utara ke panggung yang lebih tinggi.

Nada serupa datang dari Nurlaila Muhammad. Di matanya, GOT telah menjelma ikon olahraga rakyat, wadah pembinaan atlet yang tumbuh dari akar rumput. Konsistensi hingga edisi ke-28, kata dia, adalah bukti gotong royong yang masih hidup. “Kita berharap bukan hanya pertandingan berkualitas, tetapi juga fair play dan persatuan,” tuturnya. Pernyataan yang terdengar normatif, tetapi relevan di tengah iklim kompetisi yang kerap mengeras.

Di barisan panitia, Ketua GOT ke-XXVIII Ervan Ibrahim memberi perspektif lain. Baginya, Gurabati Open Tournament sudah lama melampaui identitas kampung. Ia kini milik Tidore, bahkan Maluku Utara. Turnamen ini bukan hanya melahirkan pemain baru, tetapi juga menggerakkan ekonomi dari retribusi, pajak, hingga geliat usaha kecil yang hidup setiap kali peluit pertama dibunyikan.

Format tahun ini masih seperti sebelumnya: jalur undangan. Panitia menargetkan 32 tim, tak hanya dari Maluku Utara, tetapi juga Sulawesi dan Papua. Sebuah isyarat bahwa GOT ingin terus membuka diri, menjadikan lapangan Gurabati sebagai titik temu lintas kawasan.
Malam peluncuran ditutup dengan adegan simbolik: penyerahan kembali Piala Bergilir dari Manajer AS Rumania, juara GOT ke-XXVII, Marwan Suwardi kepada Ketua Pemuda Gurabati M. Noval Kasman. Setelahnya, fashion show jersey terbaru dipamerkan warna, logo, dan harapan baru untuk musim yang akan datang.

Di luar gedung, Gurabati mungkin tetap kampung kecil dengan jalan yang tak selalu mulus. Namun setiap kali GOT digelar, ia berubah menjadi episentrum. Di sanalah orang percaya bahwa sepak bola masih punya daya menyatukan, melampaui hiruk politik dan batas-batas sosial. Dan selama keyakinan itu hidup, Gurabati Open Tournament akan terus menemukan alasan untuk ada.(NN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.