Gonone id – Bulan suci kembali datang, membawa serta ujian yang sama setiap tahun bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang menahan ego dan perdebatan.
Di tengah perbedaan penetapan awal Ramadan, Husain Alting Sjah, Sultan Tidore, memilih berdiri di jalur yang teduh. Ia mengajak masyarakat untuk tidak larut dalam silang pendapat soal tanggal, melainkan kembali ke inti syukur dan ibadah.
“Ini adalah momentum penting untuk kita agar terus bersyukur. Marilah kita memulai dari keluarga kita,” ujar Sultan kepada masyarakat melalui media, Selasa malam.
Menurutnya, Ramadan 1447 Hijriah bukan sekadar pergantian kalender, tetapi panggilan untuk memperbaiki relasi dengan Tuhan, dengan keluarga, dan dengan sesama. Di tengah dinamika perbedaan awal puasa, ia menekankan pentingnya kedewasaan beragama agar kerukunan tetap terjaga.
“Lebih baik kita fokus meningkatkan kualitas ibadah selama bulan suci ini, daripada memperdebatkan perbedaan tanggal untuk memulai puasa,” katanya.
Berdasarkan perhitungan kalender Hijriah Kesultanan Tidore, ditetapkan bahwa 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Penetapan ini menjadi pijakan bagi internal Kesultanan dalam memulai rangkaian ibadah.

Malam itu, Masjid Kesultanan Tidore telah lebih dulu dipenuhi jamaah. Shalat tarawih dan tadarus Al-Qur’an dilaksanakan dengan khidmat suara ayat-ayat suci menggema di antara dinding tua yang menyimpan sejarah panjang kerajaan dan agama.
Bagi Sultan, perbedaan bukan alasan untuk terpecah. Ia justru melihatnya sebagai ruang untuk menunjukkan kedewasaan spiritual masyarakat. Ramadan, dalam pandangannya, adalah latihan kolektif: menahan diri, menjaga lisan, dan merawat persaudaraan.
Di penghujung pernyataannya, Sultan menyampaikan doa yang sederhana namun dalam.
“Selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga setiap sujud kita di bulan ini membawa kita lebih dekat kepada Allah SWT.”
Di bulan yang suci ini, mungkin yang paling penting bukanlah siapa yang lebih dahulu memulai, tetapi siapa yang paling sungguh-sungguh memperbaiki diri. Ramadan selalu tentang itu tentang kembali.(NN)







